Kamis, 25 Juni 2015

Makalah tentang Comparative Brand KFC vs CFC



I. Latar Belakang
Memilih Brand KFC, Pertumbuhan usaha warabala (franchise) kini semakin berkembang di Indonesia. Keberadaan warabala yang semakin marak beberapa tahun terakhir  ini tidak mungkin dihindari lagi. Warabala merupakan strategi yang efektif untuk mengembangkan jaringan bisnis dengan tidak menghilangkan karakter perusahaan yang sudah menjadi ciri khas warabala yang bersangkutan. Pelaku usaha harus memiliki strategi untuk tetap berdaya saing dalam lingkungan persaingan bisnis yang semakin ketat dan kondisi siklus produk yang pendek.
Perubahan yang paling jelas terlihat adalah timbulnya persaingan bisnis yang semakin tajam. Hal ini ditandai dengan berdirinya usaha-usaha baru yang bergerak dibidang penyediaan pangan. Selain timbulnya persaingan bisnis yang tinggi, pola pikir dan perilaku masyarakat juga mengalami kemajuan. Perkembangan pola pikir tersebut, misalnya masyarakat lebih tertarik untuk memilih tempat makan yang menyediakan layanan cepat saji (fast food) karena masyarakat cenderung disibukkan dengan berbagai aktivitas. Sehingga mereka memilih tempat makan yang menyediakan layanan cepat saji seperti Mc Donald, KFC, Texas, A&W, Restaurant dan sebagainya. Perusahaan cepat saji ini selalu berkembang pesat setiap tahunnya dengan jumlah pelanggan yang semakin banyak. Perkembangan usaha tersebut  mendorong perusahaan untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan lain yang saling mendukung. Kerjasama yang dilakukan bisa berupa modal, merek, produk dan sebagainya. KFC telah menjadi brand hidangan cepat saji yang paling dominan, dan dikenal luas sebagai jaringan restoran cepat saji di negeri ini. Produk unggulan KFC berkualitas tinggi ini dapat diterima baik di Indonesia, sebuah negara dengan konsumsi daging ayam jauh lebih tinggi daripada daging jenis lain. Selain menyajikan produk unggulannya, KFC juga memenuhi selera konsumen lokal dengan menawarkan menu pilihan seperti Perkedel, Nasi, Salad, Jagung, dan lainnya seperti Crispy Strips, Twister, dan Spaghetti yang diterima dengan sangat baik oleh pasar.




II. Pembahasan

KFC : Kentucky Fried Chicken. Kalau menurut saya KFC itu ayamnya lebih
           besar dan enak, dan menurut saya lebih brand KFC daripada CFC, karena
           duluan keluar, juga karena lebih banyak varian-varian dari eskrimnya,
           cream soup, minuman floatnya yang murah / menu goceng, atau paketan
           murah buat sekeluarga, itu membuat terutama anak muda lebih mudah
           menjangkau dan menikmatinya.

CFC : California Fried Chicken. Kalau menurut saya CFC itu ayamnya enak
           juga tapi tidak terlalu besar dan warnanya agak berbeda, juga kalau
           selesai makan serasa ditenggorokan seperti ada tepungnya yang tersisa
           dilidah dan rasanya jadi ga nyaman. CFC harganya lumayan mahal dari
           KFC dan tidak banyak varian-varian, menu makanan / paket seperti
           KFC, jadi tidak terlalu ramai juga pengunjungnya.





III. Analisis
Analisa saya kebanyakan orang berkata lebih menyukai KFC kebanding CFC, walaupun sama-sama menjual makan saji dengan ayam fried chicken, tapi orang lebih dominan menyukai yang disajikan oleh KFC, memang KFC terjangkau, enak, cepat saji, ramai, ditemukan dimanapun juga gampang. Mungkin untuk CFC bisa lebih mengembangkan kretifitas yang lebih, varian baru yang berbeda dari KFC, agar masyarakat bisa juga menyukai CFC dan harganya bisa dibuat lebih terjangkau bagi anak sekolahan / belum bekerja, tetapi jangan plagiat dari KFC nya.





IV. Kesimpulan
Menurut saya kesimpulan brand yang baik sepertinya apanya, yaitu seperti yang selalu mengeluarkan kreatifitas-kreatifitas dalam segi kualitasnya, rasanya, tampilannya, juga dengan adanya suatu hadiah dalam pembelian apa atau apapun itu yang dapat membuat orang makin penasaran, makin ingin mencoba hal barunya, makin menyukai, apalagi dengan harga yang terjangkau, juga dengan adanya pelayanan yang selalu baik, ramah, sopan, dan nyaman bagi orang-orang, membuat semakin banyak orang yang menganggumi, dengan tidak kehabisan ide dengan hal baru apa selanjutnya, orang pun makin tidak bisa melirik yang lainnya.





Selasa, 16 Juni 2015

Persepsi Film "THE TERMINAL"



Viktor Navorski, seorang warga negara Krakozhia tiba di Bandara Udara Internasional di New York City, kebetulan selama penerbangan pemerintahan negaranya digulingkan oleh pemberontak, menolak paspornya dan membiarkannya terperangkap. Hingga sembilan bulan berikutnya, Viktor terpaksa tinggal di bangunan terminal, karena tidak diperbolehkan menginjakkan kakinya di Amerika Serikat ataupun pulang. Sebenarnya Viktor pergi karena ingin mewujudkan impian ayahnya yang sangat memfavoritkan musik jazz, semua pemain musik jazz telah ada tanda tangan lalu dimasukkan pada kaleng kacang, satu lagi pemain musik jazz yang belum ada tanda tangannya yaitu Benny Golson, tetapi ayahnya sudah tiada, akhirnya Viktor ingin mewujudkannya dengan pergi untuk bertemu Benny Golson. Pada mulanya, Viktor merasa bahwa keputusan tersebut sangat merugikan, karena durasi visanya yang tidak lama sedangkan usia ayahnya sudah diambang batas. Negosiasi dengan pihak imigrasi juga ditolak, membuat Viktor harus menerima kenyataan bahwa dirinya telah terdampar di negara yang dianggap sebagai pusat demokrasi dunia. Kondisi tidak mengenakkan inilah yang mengawali alur cerita The Terminal menjadi lebih hangat. Tingkah polah Viktor mengisi waktu ‘terdampar’ membuat cerita film menjadi semakin menarik.
Kepolosan Viktor dalam memandang suatu hal membuat dirinya dinilai unik menurut orang-orang di sekelilingnya. Sering melakukan tindakan yang dianggap konyol membuat dirinya mudah dikenal oleh lingkungan sekitar gudang. Keunikan sosok Viktor inilah membuat seluruh karyawan dan pekerja di lingkungan bandara mudah mengenalnya, terutama sebagai sosok yang penuh dedikasi. Viktor dikerjai juga oleh para pekerja di bandara karena tingkahnya yang aneh, dan tidak dapat berbahasa inggris dengan baik, dengan tingkahnya yang semakin lama semakin baik dalam menolong orang, orang-orang pun jadi suka terhadapnya, hingga ia bisa dibantu untuk bisa pergi dan mendapat tanda tangan dari Benny Golson salah satu pemain musik jazz favorit ayah Viktor.

Persepsi tentang daerah batak toba



Hasil pengukuran intensitas menunjukkan bahwa penutur bahasa Batak Toba di daerah Toba dan Silindung berbicara dengan intensitas rata-rata
melebihi ukuran intensitas suara berujar normal.

Penutur dari dua daerah lainnya juga memiliki
intensitas suara yang tinggi namun masih berada
dalam ambang intensitas berujar normal.

Hasil penelitian terhadap persepsi menunjukkan, antara lain bahwa adanya kontradiksi antara persepsi informan di daerah Silindung dan Toba dengan Humbang dan Samosir.

Di mana yang pertama memandang intensitas suara sampel cenderung sopan, sedangkan yang kedua umumnya memandang hal itu cenderung tidak sopan.
Melalui wawancara ditemukan bahwa ketinggian intensitas suara mengindikasikan jarak kekerabatan yang dekat antar partisipan percakapan (teori solidaritas).

Di sisi lain, berbicara dengan suara yang kuat juga dapat dianggap tidak santun di mana seorang penutur tidak mengakui kesenjangan kekuasaan dalam hubungan kekuasaan yang ada dengan lawan bicaranya.