Tren busana muslim terus berkembang mengikuti kemajuan zaman dan
teknologi. Jika biasanya pakaian muslim pria berupa atasan polos dengan
bordir di bagian tertentu, tidak dengan keseluruhan koleksi dari salah
satu desainer kondang Indonesia, Samuel Wattimena.
Desainer yang
akrab disapa Sam itu menyuguhkan 48 koleksi busana pria yang didesain
dari berbagai kain daerah Indonesia, seperti Maluku, Bali, Palembang,
hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Perpaduan berbagai motif kain daerah
dengan gaya eklektik menjadi ciri khas koleksi pria yang mengawali
kariernya sejak 1979 itu.
Dalam ajang Jakarta Islamic Fashion
Week (JIFW) 2013, Sam menampilkan koleksinya dengan tema 'Faith, Hope,
& Love'. Tema tersebut terinspirasi dari kain khas Indonesia.
"Inspirasi utama kain-kain traditional indonesia, potongan yang kita
kenal puluhan tahun lalu, pattern-pattern dasar dari kain tradisonal
Indonesia," ujar Sam sesaat sebelum fashion show di Jakarta Convention
Center (JCC), Jakarta Selatan, Kamis (27/6/2013).
Pagelaran
dibuka dengan potongan gamis pria serta atasan lengan panjang yang polos
dan satu warna, seperti abu-abu atau putih. Kemudian disusul dengan
atasan yang berhias bordir sederhana pada bagian dada. Ada juga tambahan
celana flanel dari bahan sarung berwarna merah maroon. Tidak hanya itu,
Sam juga menampilkan kemeja pendek serta atasan dari kain tie dye
Palembang bernuansa orange dan ungu.
Potongan kerah V-neck dan
shanghai juga mendominasi koleksinya. Berbagai motif tribal menghiasi
pagelaran desainer sekaligus seniman ini. Ada pula beberapa atasan dari
kain tenun Rangrang Bali yang membuat pemakainnya semakin terlihat
elegan.
Fashion show kemudian ditutup dengan outer serta rompi
berwarna kuat. Secara keseluruhan, koleksi Sam memiliki warna-warna kuat
cenderung gelap. Dinamis dan maskulin merupakan dua kata yang mewakili
rancangannya malam ini.
Desainer yang masih aktif membina dan
melatih para pengrajin Indonesia itu menyelesaikan 48 koleksinya hanya
dalam waktu satu bulan. Sam mengaku tidak mempunyai kesulitan yang
berarti, hanya ia merasa masih kurang cuma menyuguhkan 48 busana
rancangannya tahun ini. Untuk mewujudkan mimpinya berkarya lebih banyak
lagi, Sam berencana akan mengadakan show tunggal pada 2014 mendatang.
Selasa, 19 Mei 2015
karakteristik tentang tokoh yang saya dalami
Samuel Wattimena: Kita Hidup Hanya untuk Bahagia
Megawali
karir sejak masih duduk di bangku SMA sekitar tahun 1979, mengantar
seorang Samuel Wattimena menjadi salah satu designer professional di
Indonesia. Karya-karyanya pun telah mengantarkan banyak penyanyi
Indonesia menjuarai berbagai festival baik nasional dan internasional.
Sebut saja di tahun 1980an ia pernah menangani penyanyi seperti Rafika Duri, Harvey Malaiholo, Likes Sister, Andi Meriam Mattalata, Broery Pesolima, Vina Panduwinata,Grace Simmon, Hetty Koes Endang Kemudian di era 90-an ada Ruth Sahanaya,AB Three dan masih banyak lagi. Bahkan untuk saat ini, Bung Sammy sapaan akrab Samuel Wattimena, masih dipercaya menangani group D’Masiv untuk image barunya.
“Sejak tahun 1980 sampai dengan Tahun 90’an, setiap tahun saya menangani berbagi festival music sebagai orang yang mendandani kostum mereka, jadi pada saat itu sempat ada fenomena kalau mau ikut festival pop song yang dandanin saya pasti jadi pemenang, “ tutur Sammy.
Terlahir dari keluarga sederhana menempa seorang Sammy menjadi sosok yang mandiri. Bungsu dari 5 bersaudara ini mengaku tak pernah mendapatkan uang jajan. Untuk mendapatkan uang jajan dari sang ayah yang kebetulan menjadi bendahara RT, Sammy harus membantu sang ayah menjalanin iuran RT. “Warisan terbesar yang diberikan oleh keluarga saya adalah karakter. Jadi, walaupun kami dari keluarga menengah ke bawah kami tidak pernah kehilangan rasa syukur dan bahagia,” kata Sammy.
Sammy sangat bersyukur sejak berkarir selalu berhubungan dengan orang top di bidangnya. Mulai dari penyanyi, bintang film ,teater, sutradara hampir semua pernah didandani olehnya. “Jadi, saya itu banyak mendapatkan pelajaran dan pengalaman secara otodidak. Jadi kalau ditanya siapa yang menginsprirasi saya, ya tidak ada,”.
Pekerjaan sang Mamy sebagai seorang yang memandikan jenazah, menjadikan Sammy memandang kehidupan ini biasa-biasa saja. Kehidupan mau di atas dan di bawah menurutnya sama saja. Penerima upakarti tahun 1990 dan penghargaan seni tahun 2012 ini memandang bahwa kehidupan ini hanyalah sebuah perjalanan. “Tuhan menginginkan setiap umatnya hanya untuk berbahagia dalam hidup. Jadi kalau saya ini orangtua, kita cuma disuruh main saja kok dalam hidup.Kita hidup dalam present time, jadi syukuri saja present (pemberian) itu,” ungkapnya.
Fenomena munculnya designer-designer muda di tanah air, dipandang Sammy sebagai sebuah hal yang wajar dan pasti akan terjadi. Perkembangan mode di tanah air sangat bagus dalam arti kreatifitas dan bakat. Sammy berharap, para designer-designer muda ini dapat lebih peduli akan kekayaan tanah air khususnya terhadap kain-kain tradisonal. “kepedulian terhadap kain tradisonal sangat meningkat, meski masih dalam batasan euphoria, belum banyak yang menyadari benar akan potensi dari kain-kain yang ada, dan belum sadar bahwa unsure budaya kita adalah pertahanan terbesar di Negara ini, “ tuturnya.
Sejak lima tahun terakhir ini, Sammy focus memproduksi baju-baju pria ready to wear. Tentu saja tanpa menghilangkan ciri khas Sammy yakni menggunakan kain-kain tradisional dalam setiap design yang dibuatnya. Sebagai seorang designer Sammy memandang bahwa pakaian adalah sebuah identitas. Bukan sekedar untuk menutupi tubuh. “Kalau identitas kita dipahami bangsa asing, mereka akan respect. Tapi kalau kita melayani bangsa asing, kita akan selalu dianggap pembantu,” tuturnya. Untuk itulah Sammy selalu menekankan akan pentingnya sebuah eksklusifitas dari sebuah produk, khususnya kain. Harapannya, para designer tidak hanya berorientasi pada dagang. “Pahami kekayaan kita, cari tahu,pelajari dan pahami,lalu eksekusi dalam produksi masing-masing, karena itu adalah modal,”pungkas Sammy.
Sebut saja di tahun 1980an ia pernah menangani penyanyi seperti Rafika Duri, Harvey Malaiholo, Likes Sister, Andi Meriam Mattalata, Broery Pesolima, Vina Panduwinata,Grace Simmon, Hetty Koes Endang Kemudian di era 90-an ada Ruth Sahanaya,AB Three dan masih banyak lagi. Bahkan untuk saat ini, Bung Sammy sapaan akrab Samuel Wattimena, masih dipercaya menangani group D’Masiv untuk image barunya.
“Sejak tahun 1980 sampai dengan Tahun 90’an, setiap tahun saya menangani berbagi festival music sebagai orang yang mendandani kostum mereka, jadi pada saat itu sempat ada fenomena kalau mau ikut festival pop song yang dandanin saya pasti jadi pemenang, “ tutur Sammy.
Terlahir dari keluarga sederhana menempa seorang Sammy menjadi sosok yang mandiri. Bungsu dari 5 bersaudara ini mengaku tak pernah mendapatkan uang jajan. Untuk mendapatkan uang jajan dari sang ayah yang kebetulan menjadi bendahara RT, Sammy harus membantu sang ayah menjalanin iuran RT. “Warisan terbesar yang diberikan oleh keluarga saya adalah karakter. Jadi, walaupun kami dari keluarga menengah ke bawah kami tidak pernah kehilangan rasa syukur dan bahagia,” kata Sammy.
Sammy sangat bersyukur sejak berkarir selalu berhubungan dengan orang top di bidangnya. Mulai dari penyanyi, bintang film ,teater, sutradara hampir semua pernah didandani olehnya. “Jadi, saya itu banyak mendapatkan pelajaran dan pengalaman secara otodidak. Jadi kalau ditanya siapa yang menginsprirasi saya, ya tidak ada,”.
Pekerjaan sang Mamy sebagai seorang yang memandikan jenazah, menjadikan Sammy memandang kehidupan ini biasa-biasa saja. Kehidupan mau di atas dan di bawah menurutnya sama saja. Penerima upakarti tahun 1990 dan penghargaan seni tahun 2012 ini memandang bahwa kehidupan ini hanyalah sebuah perjalanan. “Tuhan menginginkan setiap umatnya hanya untuk berbahagia dalam hidup. Jadi kalau saya ini orangtua, kita cuma disuruh main saja kok dalam hidup.Kita hidup dalam present time, jadi syukuri saja present (pemberian) itu,” ungkapnya.
Fenomena munculnya designer-designer muda di tanah air, dipandang Sammy sebagai sebuah hal yang wajar dan pasti akan terjadi. Perkembangan mode di tanah air sangat bagus dalam arti kreatifitas dan bakat. Sammy berharap, para designer-designer muda ini dapat lebih peduli akan kekayaan tanah air khususnya terhadap kain-kain tradisonal. “kepedulian terhadap kain tradisonal sangat meningkat, meski masih dalam batasan euphoria, belum banyak yang menyadari benar akan potensi dari kain-kain yang ada, dan belum sadar bahwa unsure budaya kita adalah pertahanan terbesar di Negara ini, “ tuturnya.
Sejak lima tahun terakhir ini, Sammy focus memproduksi baju-baju pria ready to wear. Tentu saja tanpa menghilangkan ciri khas Sammy yakni menggunakan kain-kain tradisional dalam setiap design yang dibuatnya. Sebagai seorang designer Sammy memandang bahwa pakaian adalah sebuah identitas. Bukan sekedar untuk menutupi tubuh. “Kalau identitas kita dipahami bangsa asing, mereka akan respect. Tapi kalau kita melayani bangsa asing, kita akan selalu dianggap pembantu,” tuturnya. Untuk itulah Sammy selalu menekankan akan pentingnya sebuah eksklusifitas dari sebuah produk, khususnya kain. Harapannya, para designer tidak hanya berorientasi pada dagang. “Pahami kekayaan kita, cari tahu,pelajari dan pahami,lalu eksekusi dalam produksi masing-masing, karena itu adalah modal,”pungkas Sammy.
Saya menganalisa tokoh yang saya dalami ini, Samuel Wattimena atau sering dipanggil Sammy ini adalah seorang yang takut akan Tuhan, dia jalani semua yang ada di kehidupannya sesuai dengan apa adanya saja, dan dia membuat dirinya sendiri maju seperti apa yang ia sukai, hingga ia bisa menjadi seorang designer terkenal, walau ia tak ada yang menginspirasi tetapi ia bisa mengkreatifitaskan hal-hal dan karya-karya baru lainnya yang bisa ia buat sendiri, dan nyatanya banyak artis-artis yang mau ditangani oleh Samuel Wattimena.
Langganan:
Komentar (Atom)
